LONG LIFE EDUCATION
A. PENDAHULUAN
Dunia pendidikan adalah dunia guru, rumah rehabilitasi anak didik. Dengan sengaja guru berupaya menyerahkan tenaga dan pikiran untuk mengeluarkan anak didik dari terali kebodohan.
Guru disebut juga Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru menjadikan panutan (suri tauladan), apapun yang terdapat dalam diri guru pasti dinilai baik dan buruknya. Sekolah sebagai tempat pengabdian adalah bingkai perjuangan guru dalam keluhuran akal budi untuk mewariskan nilai-nilai, lahiriyah dan mentransformasikan multinorma keselamatan duniawi dan ukhrawi kepada anak didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia, cerdas, kreatif dan mandiri berguna bagi pembangunan bangsa dan negara dimasa mendatang.
Guru dan anak didik memang figur manusia yang selalu hangat dibicarakan dan tidak akan pernah absen dari agenda pembicaraan masyarakat. Berhasil tidaknya peserta didik tergantung guru.
Guru akan disanjung jika berhasil, tetapi akan dicaci maki dengan sinis bila berbuat kesalahan dan juga bila muridnya tidak berhasil.
Guru merupakan harapan dari orang tua murid, masyarakat, peserta didik, pemerintah, budaya dan lain-lain tetapi kenyataan dilapangan guru kesejahteraannya belum memenuhi standart hidup layak. Keberadaan guru masih terabaikan dan masih merupakan obyek administratif dan birokratis semata. Dalam kenyataan manajemen SDM Guru belum menyentuh rasa aman dan kurang dukungan dari pihak luar (peserta didik, orang tua, pemerintah, masyarakat).
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemikiran diatas dapat dirumuskan suatu masalah dari guru. Adapun rumusan masalahnya :
1. Bagaimanakah sosok guru yang diharapkan ?
2. Bagaimanakah kenyataan dilapangan guru itu ?
C. TUJUAN
1. Tujuan Teoritis :
Untuk mengetahui dan mendiskripsikan sosok guru yang diharapkan.
Untuk mengetahui kenyataan dan mendiskripsikan guru dilapangan.
2. Tujuan Praktis :
Memberikan masukan yang berguna bagi penulis khusunya dan untuk membuka wawasan guru sesuai harapan dan kenyataan dilapangan dengan pendekatan secara arif dan bijaksana.
D. PEMBAHASAN PENDIDIKAN
a. Definisi guru dan pendidikan
Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan, seharusnya dilakukan secara manusawi sesuai harapan seorang guru. Guru juga figur manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Guru adalah bapak rohani bagi anak didiknya (Syaiful, 2000 : 4).
Menjadi guru berdasarkan tuntutan pekerjaan adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi menjadi guru berdasarkan panggilann jiwa atau tuntutan hati nurani adalah tidak mudah karena lebih banyak dituntut suatu pengabdian kepada anak didik daripada tuntutan pekerjaan dan material oriented. Guru mendasarkan pengabdiannya karena panggilan jiwa merasa jiwanya dekat dengan anak didik wajar kalau guru adalah cerminan pribadi yang mulia.
Guru identik dengan pendidikan. Bicara guru tidak lepas dari mendidik dan mengajar. Mendidik dan mengajar merupakan perbuatan teramat penting dan bermartabat tinggi untuk membawa anak manusia pada tingkat manusiawi dan para peradapan khususnya pada jaman modern dengan segala kompleksitasnya (Kartini Kartono, 1997 : 7).
Tanpa pendidikan, anak tidak akan dapat mencapai martabat kemanusiaan, tidak bisa menjadi pribadi utuh, juga tidak bisa menjadi insan sosial dan abdi Tuhan Yang Maha Esa yang sholeh.
Perbuatan mendidika adalah perbuatan kreatif untuk membimbing anak manusia pada tujuan-tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan merupakan turunan atau penjabaran dari tujuan hidup orang dewasa.
Proses pendidikan merupakan totalitas pendidik bersama-sama anak didik untuk mewujudkan totalitas pengarahan menuju pendidikan tertentu, disamping berupa orde normatif guru mengukur kebaikan dan manfaat produk perbuatan mendidik itu sendiri.
Karena itu pendidikan harus dibangun dan bersumber pada pola kebenaran lokal (juga regional dan nasional) dengan memperhatikan pola aspek-aspek ekonomis, sosial, kultural dan politiknya.
Definisi mengenai pendidikan
M.J Langeveld (1955)
1. Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan.
2. Pendidikan adalah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya agar dia bisa mandiri, akil baliq dan bertanggung jawab secara silsilah.
3. Pendidikan adalah usaha mencapai penentu diri susila dan bertanggung jawab mencapai self verantwoordelrjke Ze Delijhe Zelf Bepaling).
Staila Van Potten Henderson :
Pendidikan merupakan kombinasi dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan warisan sosial.
Khonstamm dan Gunning (1995)
Pendidikan adalah pembentukan hati nurani. Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan penentuan diri secara etis, sesuai dengan hati nurani.
John Dewey (1978).
Aducatin is all one with growing, it has no and beyond it self. (Pendidikan adalah segala sesuatu bersamaan dengan pertumbuhan, pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir dibalik dirinya.
Sesuai dengan dinantikan perkembangan dunia, sistem pendidikan selalu saja dikonsepsikan ulang dan diinterprestasikan kembali pada setiap periode historis-rohaniah dan pada setiap orde politik tertentu
Sehubungan dengan hal ini gambaran manusia jelas shbeeld dan anak didik juga selalu dikonsepsikan ulang dalam setiap konteks sejarah perjuangan mansuia, dan pada orde politik zamannya.
Karena itu ada gera, aliran. Perubahan dan renovasi yang menjadi dimensi pokok pendidikan dan yang menuntut agar sistem pendidikan mau mengadaptasi kan diri terhadap kondisi zamannya.
Sikap dan fungsi anak didik, orang dewasa yang tengah belajar, rakyat dan pemerintah itu juga terus menerus dinamis berubah mengikuti gerak dan kondisi sekaligus, kultural, ekonomis dan politik yang ada. Maka dari itu kita harus bisa mamahami makna dan faedah pendidikan bagi anak didik dan rakyat/masyarakat dan memahami pendidikan sebgai suatu faktor politik untuk menstabilkan dan membangun negara.
Masalah sosial termasuk masalah dunia pendidikan. Pendidikan akan berubah menjadi masalah politik pada saat pemerintah dilibatkan untuk memecahkan atau berkewajiban membuktikan diri untuk ikut mengatasi/memecahkan masalah-masalah yang terjadi.
Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan Perguruan Taman Siswa memberikan saham besar kepada Pendidikan Nasional dan boleh dikatakan semua prinsip Taman Siswa telah tercakup didalamnya. Adagium “Tut Wuri Handayani” artinya tetap emmpengaruhi dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak didik untuk berjlan sendiri. Merupakan lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diungkap dengan “Hing Ngarso Sung Tulodo” (Didepan berilah tauladan) “Hing Madya Mangun Karsa (ditengah ikut serta membentuk kehendak) dan “Tut Wuri Handayani” (dibelakang tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak-anak didik).
Agar guru sesuai dengan harapan dan kenyataan harus menggunakan pendekatan dan metode pendidikan guru secara konsisten sesuai dengan sekolah tempat mengabdi.
Wewenang guru yang perlu dipertimbangkan adalah (Departemen Pendidikan Kebidayaan, 1986 : 283)
Wewenang dalam hal hubungan kemanusiaan.
Wewenang dalam hal hubungan bidang studi.
Wewenang dalam hal profesi.
b. Guru mitra anak didik dalam kebaikan.
Di sekolah guru adalah Orang Tua kedua bagi anak didik. Guru adalah orang tua. Anak didik adalah anak. Orang tua dan anak adalah dua sosok insani yang diikat oleh tali jiwa. Guru dan anak didik berada dalam suatu relasi kejiwaan. Interaksi antara guru dan anak didik terjadi saling membutuhkan. Anak didik ingin belajar dengan menimba sejumlah ilmu dari guru dan guru ingin membina dan membimbing anak didik dengan memberikan sejumlah ilmu. Guru dan anak didik mempunyai kesamaan langkah dan tujuan yaitu kebaikan. Jadi tepatlah bila dikatakan “Guru Mitra Anak Didik Dalam Kebaikan”.
c. Pendekatan yang diharapkan dari guru.
Ketika interaksi edukatif itu berproses guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat dan mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya
Semua kedekatan baik dari guru maupun anak didik harus dihilangkan dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan interaksi edukatif lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas. Guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan “Semau Gue” yang bisa merugikan anak didik. Guru harus sadar memandang anak didik sebagai mahkluk individual dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran.
Pendekatan dengan harapan dapat membantu guru adalah sebagai berikut :
1. Pendekatan Individual.
Pendekatan individual mempunyai arti penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual. Dengan kata lain guru harus melakukan pendekatan individual dalam strategi pengajarannya.
2. Pendekatan Kelompok.
Anak didik adalah sejenis mahkluk homo socius yaitu mahkluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok diharapkan dapat ditumbuhkan dan dikembangkan rasa rasional yang tinggi pada diri setiap anak didik.
Anak didik yang dibiasakan hidup bersama, bekerjasama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangannya dan kelebihannya.
3. Pendekatan Bervariasi.
Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus pendekatan bervariasi sebagai alat yang dapat digunakan guru untuk kepentingan pengajaran.
4. Pendekatan Edukatif.
Pendekatan yang benar seorang guru adalah dengan pendekatan edukatif setiap tindakan, sikap, sikap dan perbuatan guru yang dilakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial dan norma komunikasi yang kurang bervariasi antara anak didik dengan guru. Merupakan faktor krndala pendekatan edukatif.
Agar guru sesuai harapan dan kenyataan guru harus :
1. Memiliki semangat juang tinggi.
2. Mampu mewujudkan dirinya dengan tuntutan lingkungan dan Iptek.
3. Mampu belajar dan bekerjasama dengan profesi lain.
4. Memiliki etis kerja kuat.
5. Memiliki kerjasama pengembangan karier.
6. Berjiwa profesionalisme tinggi.
7. Memiliki kesejahteraan lahir batin.
8. Memiliki wawasan masa depan.
9. Mampu melaksanakan fungsi dan peran secara terpadu.
E. SIMPULAN.
Harapan guru bagi :
1. Peserta didik.
Mempunyai sifat-sifat yang ideal.
2. Orang Tua
Guru harus mampu menjadi orang tua di sekolah (orang tua kedua).
3. Pemerintah
Menjadi guru yang profesional.
4. Masyarakat
Guru merupakan wakil masyarakat dilembaga pendidikan.
5. Budaya
Guru berperan dalam pewarisan budaya yang baik.
6. Guru
Pengakuan guru sebagai insan dunia pendidikan yang sering diabaikan.
Kenyataan guru dilapangan :
1. Kurang diakui keberadaannya.
2. Merupakan objek administratif dan birokratis.
3. Manajemen SDM justru belum menyentuh rasa aman.
4. Kesejahteraan guru belum memadai standar yang layak.
5. Merupakan sasaran utama dalam kegagalan pendidikan.
6. Partai politik sebagai tumpangan.
7. Kurangnya dukungan dari siswa, orang tua, pemerintah dan masyarakat.
Upuw eo towh ...........
BalasHapus